^Back To Top

KotaJambiBangkit
Januari 2018
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Sebuah pameo yang mengatakan bahwa “dalam dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali perubahan”. Kata bijak tersebut menyadarkan kita bahwa ada sebuah dimensi yang menggerakan roda kehidupan ini, yang membuat perubahan tersebut terjadi, baik positif ataupun negatif. Dimensi tersebut adalah waktu.

Waktu adalah mata uang kehidupan. Ia bagaikan uang yang dibutuhkan dalam setiap transaksi bisnis. Waktu adalah salah satu elemen yang terpenting dalam kehidupan ini. Orang-orang sukses adalah mereka yang mampu membangun sinergi antara energi dengan waktu yang mereka miliki, dan menggapai sukses seiring waktu. Tuhan mengingatkan kepada kita untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.  Manusia dikatakan sangat merugi, kecuali  orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu untuk kebaikan.

Waktu merupakan hal yang mutlak. Manusia tak akan dapat menghindar atau lari dari waktu. Manusia hidup dalam dimensi waktu.  Apapun yang dilakukan oleh manusia selalu dalam dimensi waktu. Kita mungkin dapat berhenti bergerak, bahkan berhenti bernafas, namun  waktu terus berjalan tanpa kompromi.  Itulah kemutlakan waktu.Tahukah Anda, bahwa setiap detik dan setiap menit keberadaan kita – suka atau tidak suka – kita sedang mengkonsumsi apa yang disebut sebagai waktu. Tidak seorangpun dapat membeli atau menjualnya, bahkan mengusahakannya sekalipun.

Apabila waktu dapat diperjual-belikan, ia akan menjadi salah satu komoditas dengan peminat yang luar biasa banyak. Akan banyak orang ingin mendapatkan uang. Namun waktu adalah dimensi yang melingkupi kehidupan setiap orang. Waktu itu gratis selama kita masih hidup, namun ia tidak dapat dinilai dengan apapun. Kita tidak dapat memilikinya, namun kita dapat menggunakannya. Kita tidak dapat menyimpannya, namun kita dapat menghabiskannya. Sekalinya kita sudah kehilangan waktu, kita tidak dapat mengambilnya kembali.

Hidup bagaikan anak panah yang dilepas dari busurnya, dan melesat bersama dengan sang waktu. Hanya mereka yang bersedia menutup pintu masa lalu, yang akan menikmati berkat kehidupan yang disediakan hari ini, serta dapat membuka pintu masa depan yang penuh harapan.

Orang yang bijaksana adalah orang yang menyadari hakikat keberadaan tiga dimensi waktu dalam kehidupan ini, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Orang yang bijak dan sukses adalah mereka yang mampu mengambil sikap dan bertindak dengan benar atas ketiga dimensi waktu yang ada tersebut.

Sebagian orang terikat masa lalunya sehingga ia tidak mampu hadir di masa kini yang seharusnya dapat ia nikmati. Sebagian orang terlena dalam kesenangan sia-sia dan menghabiskan waktu masa kini tanpa menghasilkan hal yang berguna, padahal masa kini sudah pasti akan menjadi pijakan bagi orang tersebut untuk menggapai masa depan. Sementara sebagian lagi begitu khawatir menggapai akan masa depan. Tanpa sadar, ia “mengundang” sendiri apa yang ia takutkan dan khawatirkan. Iman dan keyakinan atas janji dan kebaikan dari Sang Khalik akan memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk berani menatap masa depan sekalipun tidak seorangpun mengetahui kepastiannya.

Masa Lalu

Banyak orang terbelenggu – atau sengaja membelenggu – dirinya pada masa lalunya, baik yang indah maupun yang menyakitkan. Baik keindahan ataupun keburukan masa lalu dapat menjadi penghalang kita untuk berjalan dengan baik pada masa kini.

Banyak institusi ataupun individu yang tidak dapat melanjutkan keberhasilan atau suksesnya saat ini karena mereka terikat pada paradigma suskses yang sebelumnya. Mereka terlalu yakin bahwa paradigma, konsep atau pola keberhasilan yang sebelumnya terbukti efektif bekerja, senantiasa diyakini mampu untuk menyelesaikan medan tempur dan keadaan saat ini.

Dalam kehidupan pribadi banyak individu yang tidak dapat membangun hubungan dengan pasangannya dengan baik, karena ia tidak mampu menutup kenangan masa lalunya dengan pacar lamanya. Demikian pula banyak orang mengalami trauma karena peristiwa yang menyakitkan di masa lalu yang melumpuhkannya, sehingga ia tidak mampu berdiri dalam kehidupan hari ini dan tidak mampu melangkahkan kaki untuk menggapai masa depan.

Kegagalan dimasa lalu harus kita jadikan pembelajaran untuk koreksi masa kini, sedangkan trauma dan sengat atau racunnya harus kita cabut dalam hidup ini, sehingga tidak melumpuhkan kita. Sama halnya dengan keberhasilan dimasa lalu, juga bukan untuk disakralkan, melainkan harus menjadi pijakan untuk menapak tangga keberhasilan berikutnya dengan pola dan paradigma yang baru. Kita harus dapat menyaringnya, mana yang dapat dipergunakan, mana yang perlu ditingkatkan, dan mana yang harus ditinggalkan.

Artinya dari semua itu adalah bahwa keberhasilan hari ini sangat ditentukan oleh cara kita menyikapi masa lalu kita, baik dalam hal kegagalan maupun keberhasilan.

Masa Kini

Banyak orang melewati hidup ini seperti orang yang tertidur dan sedang bermimpi di tengah semua aktifitas dan kesibukannya, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka terbangun ketika mereka masuk dalam kekekalan, namun semuanya sudah terlambat.

Sebuah buku yang berjudul The Power of Now, yang ditulis oleh Echart Tolle dikatakan bahwa mereka yang berbahagia adalah mereka yang memiliki harmoni pada dirinya, selalu sadar, dan mampu menikmati masa kini.

Secara individual, mereka sudah menemukan identitas dirinya pada masa kehidupannya. Sebagai gambaran, ketika usia seseorang mencapai pertengahan, maka cara ia makan dan hidup tidak boleh sama dengan ketika ia masih muda. Apabila dilanggar, maka akan menimbulkan kegemukan atau penyakit.

Dalam sebuah institusi, ia mampu melakukan identifikasi dan penyusunan SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat) dengan baik. Ia sepenuhnya menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, serta kesempatan dan ancaman yang ada di luar sana. Tidak kalah pentingnya adalah kesadaran akan misi dan keberadaan dirinya, atau yang kita kenal dengan istilah positioning.

Masa Depan

Raja Salomo mengajarkan agar kita mempelajari prinsip kehidupan dari seekor semut. Perhatikanlah laku semut dan jadilah bijak. Biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau pengasuhnya, ia menyediakan roti di musim panas, dan mengumpulkan makanan pada waktu panen.

Hal apa yang ingin kita pelajari dari kehidupan seekor semut? Mereka (semut) mengenal konsep planning for future. Mereka menyadari konsep perputaran musim. Mereka sadar bahwa mereka memiliki waktu yang terbatas di musim panas untuk mengumpulkan persediaan makanan demi melewati panjangnya musim dingin.

Sekalipun kita tidak dapat memastikan hari esok, namun ada sebagian yang harus kita kerjakan untuk menghadapi hari esok yang akan datang. Namanya adalah perencanaan. Sebuah institusi atau individu akan menuai kegagalan – bahkan bencana – apabila tidak dapat membuat perencanaan yang baik untuk hari depannya.

Namun demikian, perencanaan hari depan tanpa penyertaan dan anugrah dari Tuhan akan menjadi sia-sia. Oleh sebab itu, selalu libatkanlah Tuhan dalam setiap rencana yang kita susun, agar rencana tersebut pada akhirnya biasa berujung pada kebaikan bagi kita sendiri maupun orang banyak.

Jangan pernah khawatir akan hari esok, sebab ke-khawatir-an tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, ke-khawatir-an lebih sering mengundang hal yang negatif. Setelah itu, baru kita susun rencana masa depan yang kita idamkan.

Kita Hidup pada Dimensi Sekarang

Salah satu dimensi waktu yang terpenting adalah waktu saat ini atau sekarang. Pada hakikatnya manusia hanya memiliki waktu sekarang. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang patut kita pahami dari dimensi waktu ini. 

Pertama, hiduplah pada waktu saat ini. Artinya, manusia perlu mengisi waktu ‘saat ini’ dengan aktivitas yang sebaik-baiknya. Apa yang kita lakukan di saat ini akan menjadi bagian dari masa lalu kita. Dan yang lebih penting waktu saat ini akan mempengaruhi waktu yang akan datang. Misalnya seorang siswa yang rajin belajar, bersikap jujur, disiplin pada saat ini akan mempengaruhi atau menentukan masa depannya. Tidak ada hal  sia-sia yang saat ini kita lakukan, semua akan menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang.  Sebagaimana kegagalan-kegagalan Newton yang merupakan rangkaian peristiwa yang menentukan keberhasilannya dalam menemukan hukum grafitasi Newton.

Kedua,bahagialah dengan kebahagiaan saat ini. Sering manusia merasa sedih, gelisah, atau takut dengan sesuatu yang belum terjadi. Sedangkan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan pada saat ini ditiadakan atau sengaja diabaikan.  Seorang siswa yang akan menghadapi ujian misalnya sering kali takut gagal, takut soal-soal yang dihadapi sulit dikerjakan,  takut mendapat nilai jelek dan sebagainya. Ketakutan ini akan membawa kegelisahan. Semua hal yang negatif, kegagalan yang belum terjadi sudah ia rasakan sebelum kegagalan itu terjadi. Contoh lain misalnya, seorang ibu yang akan bepergian jauh di siang hari sering kali sudah merasa pusing, masuk angin, atau mual-mual. Sehingga, ia pun urung melakukan perjalanan tersebut karena ia sudah merasakan ketidaknyamanan bepergian yang belum dilakukannya.  Contoh lain,  ada seorang remaja yang mengalami frustasi. Ia selulu murung, bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri  karena kegagalan-kegalan atau kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya yang selalu disimpannya. Remaja tersebut belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Sehingga ia sudah memvonis bahwa dirinya penuh dengan dosa, penuh dengan kesalahan.  Ia tidak pernah merasa bahagia walau orang tua dan teman-temannya sangat memperhatikan dan menyayanginya. Kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan tidak pernah ia dapatkan. Ia hanya hidup dengan bayang-bayang masa lalunya.

Jika kita mencermati contoh peristiwa di atas pola pikir kita sangat menentukan bahagia atau tidakkah kita.  Kebahagiaan seharusnya bukan karena masa lalu kita, juga bukan karena masa depan kita yang belum terjadi. Segera rasakan kebahagiaan saat ini. Apa yang kita alami, yang kita miliki saat ini itulah yang patut kita syukuri dan menjadikan diri kita sebagai manusia yang paling bahagia di dunia ini. Kita tak perlu menunda bahagia jika mendapat uang banyak, jika memiliki rumah dan mobil mewah, atau hal-hal lain yang istiwa yang belum terjadi. Tetapi, saat inilah kebahagiaan kita rasakan.

Ketiga, jangan menuda-nunda berbuat kebaikan, segeralah melakukan sesuatu yang bermanfaat. Mungkin kita tak pernah memiliki satu detik yang akan datang. Sebaliknya kita juga tak mampu mengulang satu detik yang berlalu. Untuk itulah orang Barat mengumpamakan “Time is money” dan bangsa Arab mengibaratkan waktu adalah pedang”.

Dengan mengabaikan waktu kita akan kehilangan beberapa keuntungan atau dengan menunda-nunda kesempatan kita akan tergilas oleh waktu. Berapa waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk kita? Tiada seorang pun yang mampu menjawab. Kita pun tak perlu mempermasalahkan seberapa lama Tuhan menganugerahi waktu kepada kita. Tetapi, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita menggunakan waktu tersebut sebagai seorang yang pandai bersyukur.

Penutup

Orang bijak adalah mereka yang memahami waktu kehidupan, dan perubahan yang terjadi seiring dengan waktu. Ia menyadari apa yang sedang terjadi, dan kemana ia harus melangkah. Ia menyadari ketika musim kehidupan sedang berganti dan musim baru telah tiba, lalu ia akan mampu menyikapi perubahan tersebut dengan benar. Kecemerlangan dan kualitas ini juga wajib dimiliki oleh korporasi yang bertekad untuk maju dan bertahan di tengah persaingan.

Pustaka

Tandjung J.G, 2011. “Tiga Dimensi Waktu”. Sriwijaya Magazine. Edisi Januari

Kusuma, S.L, 2013. “Manusia dan Dimensi Waktu”. wordpress.com