^Back To Top

KotaJambiBangkit
July 2018
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

 

Millenium Development Goals (SDGs)

Pada saat memperingati 20 tahun KTT Bumi (Rio Earth Summit) 1992 lahirlah konsep pembangunan multi jalur yakni pola pembangunan yang juga memberikan aksentuasi pada peran lingkungan dan sosial tidak semata dimensi tunggal ekonomi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa target MDGs adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015 yang merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium. Deklarasi ini diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai Delapan Tujuan Pembangunan Milenium sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Untuk mengingat kembali, berikut adalah 8 Tujuan Pembangunan Millenium tersebut.

 

 

1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan : Pendapatan populasi dunia sehari $10.000 dan menurunkan angka kemiskinan.

2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua : Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan : Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah.

4. Menurunkan angka kematian anak : Mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun.

5. Meningkatkan kesehatan ibu : Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya : Menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya.

7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup : Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan, mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat, dan mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan : Mengembangkan perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi, membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang dan negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil, mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang dan membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang, mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda, menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang, dan dalam kerjasama dengan pihak swasta membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Kedelapan tujuan tersebut menjadi inti upaya pembangunan bagi negara-negara miskin di dunia. Apakah tujuan-tujuan tersebut berhasil membuat perbedaan?

Fakta-fakta yang berasal dari MDGs menunjukkan kekuatan besar dan memberikan semangat. Terdapat sejumlah contoh kemajuan dalam pengentasan kemiskinan, pengendalian penyakit dan peningkatan akses kepada sekolah dan infrastruktur di negara-negara termiskin di dunia, khususnya di Afrika, yang merupakan hasil dari MDGs. Namun demikian, semenjak pertama dicanangkan, pencapaian atas sejumlah target secara global dirasakan masih sangat lamban bahkan dibeberapa kawasan tertentu beberapa target tidak tercapai. Yang jelas, pencapaian target MDGs segera berakhir pada 2015. Tentunya masih banyak tantangan-tantangan global baru yang perlu disikapi oleh masyarakat dunia.

Intinya, jika kita teruskan cara membangun seperti biasa, dunia akan makin terpuruk. Itulah argumen Agenda Pasca-2015. Dan satu-satunya cara membangun adalah secara berkelanjutan, yang memastikan tiga dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan terperhitungkan dalam pembangunan.

 

Pembangunan yang Berkesinambungan

Konsep pembangunan yang berkesinambungan (Sustainable Development) menjadi salah satu kata kunci penting yang mendasari kerangka pembangunan di seluruh dunia saat ini. Berangkat dari kesadaran bahwa bumi bukan semata milik generasi saat ini, konsep pembangunan yang berkesinambungan diciptakan.

Ide pembangunan lestari atau pembangunan berkelanjutan ini merujuk pada World Commission on Environment and Development’s (the Brundtland Commission) tahun 1987 bertitel Our Common Future yang intinya berbunyi Development that meets the needs of current generations without compromising the ability of future generations to meet their own needsatau “Pembangunan di mana kebutuhan di masa kini bisa dipenuhi tampak mengompromikan atau mengurangi kemampuan generasi di masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka”. 

Konsep ini mengalami redifinisi bahwa pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. Terminologi pembangunan berkelanjutan ini pada perkembangannya telah mengalami over used dan menjadi jargon kosong walaupun sangat populer. Bahkan orang-orang yang berkecimpung dalam isu pembangunan kadang merasa kesulitan menjelaskan secara jelas apa yang dimaksud engan berkelanjutan.

Konsep pembangunan yang berkesinambungan sendiri dibutuhkan karena sering kali terjadi konflik kepentingan. Ditengah deraan tantangan global seperti tingkat kemiskinan, bencana alam, perubahan iklim, dan krisis keuangan, isu pembangunan berkelanjutan yang menekankan pada integrasi pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan merupakan tantangan berat bagi para pengambil kebijakan di setiap negara. Tanpa adanya komitmen global untuk mengubah pola pembangunan konvensional, maka eksplorasi sumber daya alam dan lingkungan akan semakin besar. Dampak nyata dari ekstraksi yang melebihi ambang batas daya dukung lingkungan tersebut adalah kekeringan yang berkepanjangan, peningkatan permukaan air laut serta terjadinya cuaca ekstrim.

Salah satu upaya menyelaraskan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan sumberdaya alam adalah konsep pertumbuhan hijau (green growth). Pertumbuhan ekonomi hijau adalah konsep pertumbuhan yang mengedepankan aspek kualitas dan kuantitas ekosistem dan lingkungan serta mengurangi disparitas sosial dalam memaksimalkan pertumbuhan ekonomi.

Kemunculan konsep pertumbuhan hijau ini tidak lepas dari kekhawatiran global atas terjadinya perubahan iklim dan degradasi lingkungan akibat bias pengukuran indikator pertumbuhan ekonomi konvensional yang dianggap gagal melindungi kualitas sumber daya alam dan keragaman hayati disamping meningkatnya kesenjangan sosial.

Tentunya, pembangunan berkelanjutan membutuhkan partisipasi dan perspektif dari berbagai pemangku kepentingan, dengan sasaran untuk melakukan merekonsiliasi berbagai nilai dan tujuan yang berbeda menuju sintesis baru untuk mencapai nilai-nilai yang sama dan sinergis.

 

Tujuan global membantu membangkitkan upaya global

Mengapa tujuan itu penting?

Dalam salah satu pidato Presiden Amerika Serikat pada bulan Juni 1963, John F Kennedy menyatakan bahwa “Saat kita bisa mendefinisikan tujuan dengan lebih jelas, menjadikannya lebih mudah diatur dan diterapkan, kita akan membuatnya terlihat nyata bagi semua orang sehingga mereka mampu merajut harapan dan melangkah menuju pencapaian tanpa halangan apapun.”

Terdapat sejumlah alasan penting untuk menetapkan tujuan. Pertama, tujuan penting untuk mobilisasi sosial. Dunia ini perlu diarahkan menuju satu arah untuk memberantas kemiskinan atau membantu pencapaian pembangunan berkelanjutan, namun  akan sangat sulit dilakukan dalam situasi dunia yang rumit, berbeda, terpisah, ramai, padat, mudah dialihkan, dan seringkali membuat kewalahan agar dapat menunjang upaya konsisten untuk mencapai tujuan bersama. Mengadopsi tujuan global akan membantu individu, lembaga, dan pemerintah di seluruh dunia untuk menyepakati arah tersebut – pada intinya, berfokus pada hal-hal yang betul-betul bermanfaat bagi masa depan kita.

Fungsi kedua dengan adanya tujuan ialah menciptakan tekanan sejawat. Dengan mengadopsi MDGs, setiap langkah yang diambil pemimpin politik untuk mengentaskan kemiskinan akan senantiasa dipertanyakan, baik di depan umum maupun secara tertutup.

Alasan ketiga yang menunjukkan pentingnya memiliki tujuan ialah memacu komunitas epistemik – jaringan keahlian, pengetahuan, dan praktik – menuju tindakan untuk mengatasi kesulitan pembangunan berkelanjutan. Ketika tujuan-tujuan yang kokoh sudah ditetapkan, maka sekelompok pengetahuan dan praktik akan bangkit bersama untuk merekomendasikan jalur yang praktis untuk mencapai hasil.

Terakhir, tujuan dapat memobilisasi jaringan pemangku kepentingan. Pemimpin masyarakat, politisi, kementerian, komunitas ilmiah, lembaga swadaya masyarakat yang terkemuka, kelompok agama, lembaga internasional, lembaga donor, dan yayasan semuanya akan terdorong untuk bergabung ke dalam tujuan bersama. Proses multi-stakeholders ini sangat penting untuk mengatasi tantanga-tantangan kompleks dalam pembangunan berkelanjutan dan upaya melawan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit.

 

Sustainable Development Goals (SDGs)

Pembahasan mengenai isu Sustainable Development Goals (SDGs) mengemuka sebagai tindaklanjut proposal yang diusulkan oleh Columbia, Guatemala, dan Peru pada United Nations Conference on Sustainable Development yang dilangsungkan di Rio De Janiero, Juni 2012, kemudian dikenal dengan KTT Rio+20. Usulan isu SDGs muncul karena adanya berbagai indikasi yang menunjukkan sulitnya mencapai konsensus global atas kompleksitas dua tema besar KTT Rio+20, yaitu green economy dan kerangka kelembagaan pembangunan berkelanjutan yang lebih dikenal sebagai Institutional Framework for Sustainable Development (IFSD).

Isu pembangunan global pasca 2015 juga dibahas dalam KTT Rio+20 yang menghasilkan outcome documentThe Future We Want” yang mencantumkan tentang SDGs dan Agenda Pembangunan Pasca 2015. Dokumen tersebut memberikan arahan tentang pentingnya tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yakni ekonomi, sosial dan lingkungan hidup yang harus bersinergi dalam pembangunan global ke depan.

Sebagai tindaklanjut hal tersebut, pada tanggal 25-27 September 2015 di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat diadakan pertemuan Sustainable Development Summit yang dihadiri perwakilan dari 193 negara. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari kesepakatan pada tanggal 2 Agustus 2015 untuk pengesahan dokumen SDGs (Sustainable Development Goals) yang mengadopsi dokumen berjudul Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Developmentatau ”Mengalihrupakan Dunia Kita: Agenda Tahun 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”.

SDGs merupakan agenda pembangunan yang lebih luas dibandingkan agenda MDGs dalam bentuk 12 illustrative goals yang memuat sejumlah isu baru seperti lapangan pekerjaan yang layak, ketahanan energi, pangan dan gizi, air dan sanitasi, good governance dan institusi yang efektif, rule of law, masyarakat yang stabil dan damai, global enabling environment dan catalyze long term
finance.

Proposal SDGs yang telah diusulkan mengandung 17 tujuan dengan 169 target yang melingkupi hal-hal terkait isu pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Isu-isu ini berupa penghapusan kemiskinan dan kelaparan, peningkatan kesehatan dan pendidikan, pemberdayaan kota yang berkelanjutan, perang melawan perubahan iklim, dan perlindungan laut dan kemaritiman. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin dunia akan menyatakan komitmennya menyukseskan tiga tujuan mulia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030, yaitu mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi perubahan iklim.

Banyak pihak menilai bahwa KTT Rio+20 dapat dijadikan momentum politis untuk menyepakati perlunya SDGs ditetapkan sebagai agenda global paska MDGs. Lebih dari itu diusulkan pula agar SDGs sebaiknya mencakup seluruh negara bukan hanya untuk negara berkembang saja sebagaimana MDGs.

Ada lima aspek pembangunan berkelanjutan agenda globa, yakni. Satu, aspek manusia, yang menegaskan bahwa upaya menghapus kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memastikan semua orang hidup bermartabat dalam kesetaraan sebagai manusia dan warga negara. Aspek ini sering diabaikan karena upaya pengentasan kemiskinan semata-mata dipandang sebagai proyek dan manusianya sebagai obyek.

Kedua, aspek planet, yang memastikan bahwa membangun berarti melindungi bumi dari kerusakan. Cara memproduksi dan mengkonsumsi harus lebih berkelanjutan, sumber daya alam harus dikelola lebih lestari, serta perubahan iklim harus ditangani dengan serius. Bumi adalah pinjaman dari anak-cucu kita, bukan warisan untuk mereka.

Ketiga, pembangunan bertujuan mencapai kesejahteraan yang harus bisa dinikmati semua orang secara berkelanjutan. Kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang menciptakan kesejahteraan ini harus sejalan dengan prinsip tersebut.

Keempat, sejarah menunjukkan bahwa tidak ada pembangunan tanpa perdamaian dan tidak ada perdamaian tanpa pembangunan. Masyarakat yang damai, adil, dan inklusif, bebas dari ketakutan dan kekerasan harus diwujudkan dan dipastikan oleh negara.

Terakhir, pemerintah tak bisa membangun sendirian. Ia membutuhkan kemitraan lintas pemangku kepentingan: masyarakat sipil, bisnis, akademisi, media, dan mitra pembangunan lain. Ini diperlukan untuk menggerakan sumberdaya pembangunan dengan prinsip solidaritas: pembangunan adalah upaya menjangkau warga yang paling miskin dan tersisih.

Lima aspek SDGs tersebut merupakan pondasi untuk mencapai tiga tujuan mulia di tahun 2030 berupa mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi perubahan iklim. Untuk mencapai tiga tujuan mulia tersebut, terdapat 17 Tujuan Global berikut ini.

 

1.      Tanpa Kemiskinan : Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.

2.   Tanpa Kelaparan : Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.

3.     Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan : Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.

4.   Pendidikan Berkualitas : Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.

5.      Kesetaraan Gender : Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.

6.    Air Bersih dan Sanitasi : Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang.

7.   Energi Bersih dan Terjangkau : Menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang.

8.    Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak : Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.

9.      Industri, Inovasi dan Infrastruktur : Membangun infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi.

10.   Mengurangi Kesenjangan : Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara maupun di antara negara-negara di dunia.

11.   Keberlanjutan Kota dan Komunitas : Membangun kota-kota serta pemukiman yang inklusif, berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.

12.   Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab : Menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola produksi.

13.   Aksi Terhadap Iklim : Bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

14.   Kehidupan Bawah Laut : Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.

15. Kehidupan di Darat : Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.

16.   Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian : Meningkatkan perdamaian termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh tingkatan.

17.   Kemitraan untuk Mencapai Tujuan : Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Menyikapi 17 Tujuan Global tersebut, tentunya hanya akan tercapai jika dunia telah damai, aman, serta menghormati hak asasi manusia bukan di dunia di mana investasi dalam persenjataan dan perang lebih besar sehingga menghancurkan sebagian besar sumber daya yang telah menjadi komitmen untuk berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan.

Meskipun banyak pihak yang berpikir dan mendukung gerakan ini dengan positif, ada juga pihak-pihak yang meragukan gerakan SDGs ini. Kita dapat menyikapinya dengan positif dan berusaha untuk memberdayakan diri kita sendiri agar pada akhirnya kita dapat menghapus segala kekurangan diri dan bertingkah laku positif agar bangsa ini dapat menjadi bangsa yang lebih baik lagi.

Pemerintah hanya akan berhasil dalam melaksanakan agenda SDGs jika adanya partisipasi luas yang berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan seperti anggota DPR/DPRD, pemimpin daerah, masyarakat lokal, masyarakat sipil, pemuda, komunitas agama, serikat buruh, pelaku bisnis dan akademisi maupun stakeholders lainnya.

Pada dasarnya MDDs dan SDGs punya persamaan dan kesamaan tujuan yang sama. Yakni, SDGs melanjutkan cita-cita mulia MGDs yang ingin konsen menganggulangi kelaparan dan kemiskinan di dunia.

Perlu atau tidaknya tujuan SDGs ataupun MDGs akan berpulang ke masing-masing negara sesuai kebutuhan nasional karena tujuan pembangunan pasca 2015 adalah tentang komitmen bersama untuk menyikapi tantangan global yang berlaku secara lintas batas negara.

 

Pustaka

Payne, Dinah M., and Cecily A. Raiborn, (2001). Sustainable Development: The Ethics
Support the Economics.

Syampadzi Nurroh (2014)Sustainable Development Goals (SDGs) Period 2015-2030 Created by United Nations.

Yanuar Nugroho dan Diah S. Saminarsih (2015). Menasionalkan Agenda Global. Majalah Tempo 27 September 2015 (http://ksp.go.id/menasionalkan-agenda-global)

World Commission on Environment and Development (WCED), Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future, (http://www.un-documents.net/wced-ocf.htm)

http://www.globalgoals.org/

http://radjawarta.co/index.php/umum/item/5701-ratusan-pemimpin-dunia-adopsi-global-goals?jtpl =0&force=0

http://ekbis.sindonews.com/read/1048074/34/komitmen-astra-kampanyekan-global-goals-for-sustainable-development-1443186352

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/09/19/078702118/17-goal-dokumen-pbb-tentang-tujuan-pembangunan-berkelanjutan

http://unic-jakarta.org/2015/09/29/tujuan-global-hanya-akan-terwujud-di-dunia-yang-damai-aman-dan-hormati-ham-presiden-majelis-pbb/

https://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium

http://www.project-syndicate.org/commentary/sustainable-development-goals-shift-by-jeffrey-d-sachs-2015-03/indonesian