^Back To Top

KotaJambiBangkit
April 2018
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

  Pembangunan di Indonesia secara umum dijabarkan dalam bentuk proyek, proyek ini bisa didanai oleh pemerintah, bantuan luar negeri, ataupun oleh swasta. Pada era otonomi daerah saat ini, pembangunan yang berkelanjutan menjadi suatu yang penting. Praktisi dari berbagai bidang ilmu menilai, saat inilah pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan, karena daerah sudah mampu melakukan identifikasi, analisis, dan pengambilan keputusan yang didasarkan atas kondisi daerahnya, sehingga setiap pengambilan keputusan selalu didasarkan atas kondisi aktual daerah yang bersangkutan. Meskipun dari tahun ke tahun pembangunan ini walaupun memberikan manfaat yang nyata pada saat ini, namun masih sulit untuk mengetahui apakah pembangunan yang dilakukan tersebut memenuhi kaidah lestari dan berkelanjutan.  

Istilah pembangunan berkelanjutan telah memasuki perbendaharaan kata para ahli serta masyarakat setelah diterbitkannya laporan mengenai pembangunan dan lingkungan serta sumberdaya alam. Laporan ini diterbitkan oleh Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan Pembangunan - PBB (UN World on Environment and Development - WCED) yang diketuai oleh Harlem Brundtland (Conrad, 1999) dimana dalam laporan tersebut didefinisikan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Adapun definisi pembangunan berkelanjutan tersebut adalah:"Pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan generasi yang akan datang untuk dapat memenuhi kebutuhannya."Dalam arti kata,pembangunan berkelanjutan tidak boleh membahayakan sistem alam yang mendukung semua kehidupan di muka bumi. Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang revolusioner, dan hingga kini masih dalam perdebatan terutama mengenai upaya untuk mencapai keberlanjutan (sustainability) tersebut.

Pada tahun 1992, dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro, diproklamirkan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan adalah suatu tujuan yang operasional di seluruh dunia, baik di tingkat lokal, nasional, dan regional atau international. Mengintegrasikan dan menyeimbangkan masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam mencapai tujuan menjadi syarat kehidupan di muka bumi ini. Selain itu, pendekatan terpadu dan penyeimbangan dimensi sosial ekonomi dan lingkungan tersebut akan memerlukan cara dan perspektif baru dalam memproduksi, mengkonsumsi, menjalankan kehidupan (gaya hidup), serta pengambilan keputusan.

Secara harfiah, pembangunan berkelanjutan mengacu pada upaya memelihara/mempertahankan kegiatan membangun (development) secara terus menerus. Pembangunan selalu memiliki implikasi ekonomi, serta pada kenyataannya, pembangunan memiliki dimensi sosial dan politik yang kental. Pembangunan, dapat dikatakan sebagai vektor dari tujuan sosial dari suatu masyarakat (society), dimana tujuan tersebut merupakan atribut dari apa yang ingin dicapai atau dimaksimalkan oleh masyarakat tersebut. Atribut tersebut dapat mencakup: kenaikan pendapatan per kapita, perbaikan kondisi gizi dan kesehatan, pendidikan, akses kepada sumberdaya, distribusi pendapatan yang lebih merata, dan sebagainya. Sehingga konsep berkelanjutan dapat diartikan sebagai persyaratan umum dimana karakter vektor pembangunan tadi tidak berkurang sejalan dengan waktu.

Meskipun konsep pembangunan berkelanjutan ini telah digunakan secara luas, pengertian definisi pembangunan berkelanjutan ini sangat beragam. Namun isu utama dalam definisi pembangunan berkelanjutan isu kesetaraan (equity issue), yaitu bahwa pemenuhan kebutuhan kini tidak boleh mengorbankan pemenuhan kebutuhan yang akan datang. Dengan demikian definisi berhadapan dengan masalah kesetaraan antar generasi (intergenerational equity) (Costanza, 1991) .

Mari kita mencoba menelaah apakah istilah pembangunan berkelanjutan ini, apakah merupakan suatu istilah yang hanya sekedar masalah ekonomi makro atau lebih merupakan suatu filosofi dasar dalam kehidupan yang memang harus diterapkan.

Dalam definisi ekonomi, modal dalam suatu sistem ekonomi adalah “cadangan” atau stok dari barang nyata (real), yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan barang (atau fungsi pemanfaatan) dalam kurun waktu mendatang (Serafy, 1991). Sumberdaya alam, yang merupakan cadangan barang dan jasa, serta memiliki kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa serta fungsi lain diklasifikasikan sebagai modal dalam faktor produksi (Marshall 1947 dalam Serafy 1991).

Arti berkelanjutan secara ekstrim dapat dikatakan sebagai keseimbangan statis, dimana dalam keseimbangan tersebut tidak terdapat perubahan, meskipun tentu saja terdapat perubahan dalam lokasi dari waktu ke waktu (Boulding, 1991, Pezzey, 1992) . Berkelanjutan dapat pula berarti keseimbangan yang dinamis (Clark, 1989) yang memiliki dua arti yaitu: pertama, keseimbangan sistem yang mengalami perubahan, dimana parameter perubahan dalam keseimbangan tersebut bersifat konstan; yang kedua adalah keseimbangan suatu sistem yang setiap parameternya mengalami perubahan, sehingga setiap perubahan misalnya dalam populasi akan memicu restorasi nilai populasi awal tersebut.

Ekonomi seringkali didefinisikan sebagai ilmu pengalokasian sumberdaya di antara pihak-pihak yang berkepentingan (Clark, 1989) . Tujuan ekonomis dari alokasi sumberdaya (alam) adalah efisiensi, yaitu mendapatkan hasil yang tertinggi dari pemanfaatan dan ekstraksi sumberdaya tersebut. Sumberdaya diasumsikan tidak terbatas karena kemajuan teknologi dan preferensi individual dipandang sebagai “given” dan merupakan faktor dominan.

Dalam ukuran ekonomi, sediaan total dari sumberdaya digunakan dalam sistem ekonomi menentukan kesempatan ekonomi yang luas, yang juga berarti jaminan kesejahteraan bagi generasi kini dan yang akan datang. Seringkali, efisiensi ekonomi dan sustainability dianggap memiliki obyektif yang sama, yaitu menyinambungkan pembangunan dengan memastikan bahwa generasi yang akan datang memiliki kesempatan ekonomi yang sama. Sehingga efisiensi ekonomi (intertemporal) merupakan isu utama pembangunan berkelanjutan. Meskipun suatu pembangunan dapat bersifat efisien secara ekonomi dan berkelanjutan pada saat yang sama, efisiensi tidak menjamin sustainability. Dengan demikian, bila kegiatan pembangunan ekonomi bertujuan berkelanjutan dan efisien, alokasi optimal dari sumberdaya ekonomi dan lingkungan (yaitu alam) harus memenuhi kriteria yang bertujuan untuk mencapai kedua objektif ini.

Dalam kacamata ekonomi, dengan titik berat pada efisiensi, yang menjadi masalah bukanlah pada kondisi deplesi sumberdaya alam yang tidak dapat dikembalikan (irreversibility), tapi lebih pada bagaimana generasi mendatang dapat menerima kompensasi akibat kehilangan sediaan sumberdaya alam tersebut. Dapat dikatakan bahwa efisiensi ekonomi memiliki kriteria yang berbeda dengan konsep sustainability. Masyarakat harus menentukan alokasi terbaik –“how best” – dari pemanfaatan sediaan sumberdaya total hari ini untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan, serta berapa banyak sumberdaya total ini harus ditabung, atau bahkan ditimbun, untuk esok hari, bagi kesejahteraan generasi yang akan datang. Namun demikian, selain berapa banyak dan alokasi agregat total dari sediaan kapital yang menjadi komponen kunci, komposisi dari ketiga kapital tersebut dalam pemanfaatannya memegang peran yang sama pentingnya. Sebagai contoh, pembangunan ekonomi telah memicu akumulasi kapital fisik dan kapital manusia, tetapi di lain pihak mengakibatkan deplesi dan degradasi kapital alami. Dengan deplesi sediaan kapital, dimana sediaan ini tidak dapat dikembalikan ke kondisi awalnya, memiliki implikasi yang detrimental pada kesejahteraan generasi yang akan datang.

Dalam paradigma ekonomi yang ada dan dapat diterima pada saat ini, pembangunan berkelanjutan dapat diterjemahkan sebagai pemeliharaan sumber daya / kapital. Pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dijabarkan dalam gambar berikut:

Sumber :Pearce and Barbier, 2000

Dari ulasan di atas, konsep ekonomi pembangunan berkelanjutan lebih merupakan suatu karakter sistem ekonomi daripada suatu konsep yang dapat diaplikasikan secara langsung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya berfokus pada kapital fisik, alami, dan manusia yang merupakan substitusi atau komplemen, tetapi lebih kepada keputusan pengelolaan sumberdaya dalam kondisi ketidakpastian (uncertainty) maupun irreversibility.

Sediaan Sumber Daya Alam / Kapital Alami

Dalam siklus regenerasi atau pemulihan sediaan sumberdaya alam atau sediaan kapital alami (natural capital stock) biasanya dikelompokkan menjadi dua kategori: Sumberdaya tidak pulih (unrenewable) dan sumberdaya pulih (Tietenberg, 2000, Hussen, 2000). Keduanya memiliki karakteristik yang spesifik, sehingga, bila konsep sumberdaya sebagai “bahan bakar” pembangunan pola pemanfaatnya menjadi kunci dari suatu pembangunan yang berkelanjutan. Sumberdaya yang tak pulih adalah sumberdaya yang laju pemulihannya sangat lambat sehingga sumberdaya tesebut tidak dapat memulihkan stok/sediaannya dalam waktu yang ekonomis (Conrad, 1999, Tietenberg, 2000). Tanpa daur ulang pemanfaatannya, sumberdaya tak pulih akan habis bila dimanfaatkan. Misalnya, penambangan tembaga akan berakibat pada habisnya sediaaan dan cadangan tembaga tersebut. Tanpa pemanfaatan ulang tembaga yang telah diekstraksi, cadangan tambang tembaga akan nihil. Sumberdaya pulih dibedakan dengan sumberdaya tak pulih berdasarkan pada kemampuan pemulihan alami yang dimiliki sumberdaya ini yang lajunya tak dapat diabaikan. Di samping itu, siklus pemulihan ini dapat kembali memperbesar jumlah sediaan yang berkurang akibat pemanfaatannya (Tietenberg, 2000). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, meskipun terbatas, aliran pemanfaatan sumberdaya ini dapat dipertahankan secara terus menerus. Volume dan kelanjutan aliran pemanfaatan beberapa siklus sumberdaya alam yang pulih sangat tergantung pada manusia. Misalnya, penangkapan ikan yang berlebihan akan mengurangi sediaan ikan secara alami yang lebih lanjut dapat menurunkan laju peningkatan alami dari populasi ikan tersebut. Jenis sumberdaya pulih yang lain, seperti energi surya, aliran pemanfaatannya tidak tergantung manusia.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kedua karakter tersebut berpengaruh pada ketersediaan sumberdaya sebagai natural capital stock yang menjadi bahan bakar pembangunan. Mempertahankan sediaan kapital alami memiliki makna yang beragam. Konsep ini dapat diterapkan pada sumberdaya pulih. Bagi sumberdaya tak pulih, konsep ini tidak relevan, karena pada laju pemanfaatan positif dengan nilai minimum sekalipun akan mengurangi cadangan/sediaan sumberdaya alam. Pengelolaan sumberdaya pulih memiliki tantangan yang berbeda dengan pengelolaan sumberdaya tak pulih. Dalam pemanfaatan sumberdaya tak pulih, tantangan terbesar terletak pada alokasi sediaannya yang terus menerus berkurang dari satu generasi ke generasi lain sebelum mencapai transisi kepada kepulihan sumberdaya tersebut. Di lain pihak, pengelolaan sumberdaya alam pulih mencakup pemeliharaan aliran sumberdaya alam yang berkelanjutan secara efisien. Dengan demikian, dalam pengelolaan sumberdaya pulih siklus regenerasi sediaan cadangan tersebut menjadi penting.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilihat sebagai konsep efisiensi ekonomi semata. Sistem ekonomi merupakan sistem yang dinamis yang memiliki komponen input dan output yang dinamis pula.   Output dari sistem ekonomi dapat merupakan input terhadap komponen sistem bumi yang lain, demikian seterusnya.. Dengan demikian, manusia harus menempatkan dirinya dalam suatu siklus sistem ekologis dan sistem geologis dimana sistem tersebut mampu melakukan reproduksi yang terus menerus tanpa input energi dari luar (Boulding, 1996) .

Konsep pembangunan berkelanjutan, meskipun masih sulit untuk didefinisikan dan diinterpretasikan secara tegas, memiliki makna filosofi ekonomi yang mendalam dan sangat berkaitan dengan kelestarian, baik produksi dan konsumsi. Pembangunan berkelanjutan memiliki implikasi optimalisasi dua atau lebih tujuan secara bersamaan, yang berarti penurunan jumlah produksi maupun konsumsi. Hal ini mensyaratkan perubahan fundamental dalam dogma pertumbuhan ekonomi konvensional, dimana ethos berkelanjutan dapat diterapkan secara sungguh-sungguh. Sehingga dalam penerapannya, konsep ini memerlukan pendekatan lebih menyeluruh. Pembangunan berkelanjutan, sebagai filosofi dasar kehidupan menuntut perubahan nilai-nilai etika dalam kehidupan ekonomi agar pemanfaatan sumberdaya alam yang secara total terbatas jumlahnya secara sukarela selalu ditekan pada tingkat optimum.

Sebagai penutup, berikut adalah sitiran dari ayat Al Qurán surat Al Hijr (19-22)yang berkaitan dengan siklus sumberdaya alam yang berada dalam keseimbangan serta sikap manusia terhadap sumberdaya alam tersebut yang telah diatur dalam Islam.

Al Hijr 19-22

19. Dan bumi kami hamparkan dan Kami pancangkan gunung-gunung dan Kami tumbuhkan di atasnya tiap segala sesuatu dengan berimbang.

20. Dan Kami sediakan disana berbagai sumber kehidupan untukmu dan untuk mereka yang rezekinya bukan menjadi tanggung jawabmu.

21. Dan segala sesuatunya (sumber dan) pembendaharaannya (yang tak kunjung habis) ada pada Kami, dan yang Kami turunkan hanya dalam ukuran tertentu.

22. Dan Kami tiupkan angin yang menyerbuki kemudian Kami turunkan hujan dari langit, yang dengan itu kami beri kamu air, meskipun bukan kamu yang menjaga penyimpannya (mengatur siklusnya)

Sumber Bacaan:

Daniel Mudiyarso (2003). Protokol Kyoto - Implikasi Bagi Negara Berkembang

Harding (1998). Environmental Decision Making

Valery A Brown (1997). Managing for Local Sustainability